March 12, 2023

Pandangan

Adzan subuh berkumandang. Suara muazin yang merdu dari masjid membangunkan sekelompok anak di panti asuhan.

“Kak, bangun, ayo salat,” bisik Cila (bukan nama sebenarnya, 11 tahun) kepada teman-temannya di panti asuhan yang terletak di sebuah perkampungan padat penduduk di Jakarta Barat.
Ia berhasil membangunkan teman-temannya. Setelah itu, mereka mencuci muka dan berkumpul untuk sholat subuh. Kemudian, mereka mandi, membersihkan kamar, dan menyiapkan buku-buku mereka sebelum berangkat ke sekolah.

Mereka tertawa ketika salah satu teman mereka tidur di lantai dengan handuk menutupi wajahnya karena sangat mengantuk. “Kak Saras yang paling susah dibangunkan,” kata Cila sambil tertawa. Mereka mengawali kegiatan mereka dalam sehari dengan canda tawa. Cila adalah salah satu dari empat anak yang tinggal di panti asuhan milik yayasan bernama Vina Smart Era.

Ada yang istimewa dari anak-anak ini. Mereka adalah anak-anak terlantar yang kurang mendapat perhatian dan sering mendapat diskriminasi karena mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) sejak dalam kandungan.

Kebanyakan dari mereka adalah anak yatim piatu berusia 10-16 tahun. Orang tua mereka meninggal dunia karena overdosis obat-obatan terlarang dan mengidap virus HIV/AIDS. Rasa bersalah orang tua mereka telah menyebabkan anak-anaknya menderita HIV/AIDS, dan anak-anak tersebut harus menanggung bebannya. Mereka mengalami masa kecil yang kelam karena orang-orang di sekitar mereka mendiskriminasi mereka. Selain itu, mereka juga ditelantarkan oleh keluarganya sendiri, seperti yang terjadi pada Farhan (bukan nama sebenarnya). Farhan berusia 15 tahun, dan dia adalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia karena mengidap virus HIV/AIDS.

Farhan adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dan tiga di antaranya mengidap virus HIV. Kakak-kakaknya juga mengidap virus HIV. Farhan dan ibunya yang meninggal dunia karena virus HIV/AIDS pernah mendapatkan diskriminasi dari rumah sakit yang merawat ibunya. Ibunya tidak dapat bertahan dan meninggal dunia.

Selain itu, Farhan juga pernah dikeluarkan dari sekolah karena mengidap virus HIV. Berkat seorang dokter bernama Vina, Farhan kini dapat melanjutkan sekolahnya di sekolah yang baru. Meskipun demikian, masa lalu kelamnya ketika ia mengalami diskriminasi masih menghantuinya, dan bisa saja terulang kembali.

Farhan kini duduk di bangku kelas 3 SD, dan pengalaman pahitnya itu mendorongnya untuk bercita-cita menjadi seorang dokter. “Saya ingin menjadi dokter bedah, agar bisa menolong orang lain,” ujar Farhan kepada gres.news beberapa waktu lalu. Bagian tersulit dalam menolong anak-anak tersebut adalah membuat mereka hidup kembali dengan membangkitkan rasa percaya diri mereka. “Mereka liar, tidak ada yang peduli dengan mereka sehingga mereka pulang tengah malam, pengobatan mereka juga tidak dihiraukan,” ujar Asih, salah satu anggota yayasan.

Asih mengajarkan anak-anak di yayasan tersebut untuk lebih disiplin dan lebih berani mengutarakan pendapat mereka. “Mengembalikan kepercayaan diri mereka adalah hal yang paling penting. Mereka kehilangan kepercayaan diri karena didiskriminasi karena status mereka,” jelasnya. Menurutnya, tindakan diskriminatif telah membuat anak-anak pengidap virus HIV dan keluarganya sulit untuk mendapatkan hak-haknya sebagai anak.

Tanpa disadari, mereka dapat membahayakan orang-orang di sekitarnya karena trauma atas perlakuan orang lain terhadap mereka. Meskipun mereka menderita virus HIV, mereka tetaplah anak-anak yang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan kemampuan serta bakatnya sebagaimana diamanatkan dalam UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak. Memberikan perhatian yang cukup kepada mereka, menyayangi mereka, melindungi mereka dari diskriminasi, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensinya, sama halnya dengan menyelamatkan mutiara yang terpendam. Berdasarkan data tahun 2015, jumlah anak yang mengidap virus HIV di Indonesia mencapai 2.408 anak, sedangkan jumlah orang dewasa yang mengidap virus HIV mencapai 134.042 orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung ke dalam mailist kami untuk mendapatkan pembaharuan terkni.