Pantai Bahagia dan Kampung Beting di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia perlahan-lahan menghilang di bawah air laut seiring dengan krisis iklim yang terjadi. Tembok-tembok yang runtuh, halaman rumah yang tergenang air secara permanen, serta rumah-rumah yang ditinggikan di atas tiang-tiang bambu agar tidak tergerus air merupakan tanda-tanda yang menandakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Arphiah (50), lahir di wilayah tersebut ketika air pasang belum mulai mengancam keberadaan masyarakat. “Ketika saya masih muda, tidak ada banjir, tetapi sekarang banjir terjadi dua kali dalam sebulan,” ujarnya. Diperkirakan lebih dari 1.000 keluarga di lima desa terkena dampak dari erosi pantai dan hampir 100 orang harus pindah.
Sejak tahun 1980-an, masyarakat telah kehilangan 9 kilometer (5,6 mil) pesisirnya dan 3 km daerah pemukiman akibat banjir saat air pasang, yang mulai memburuk dalam dekade terakhir. Masyarakat ini adalah yang paling parah terkena dampaknya di antara lima pemukiman di muara Sungai Citarum di Jawa bagian utara, sebuah daerah di mana pemerintah mengganti hutan bakau dengan tambak ikan di tahun 1970-an untuk meningkatkan ekonomi lokal. Ridwan, seorang nelayan yang tinggal di sebuah rumah di tepi laut di Pantai Bahagia, mengatakan bahwa rumah-rumah tersebut terletak di daerah di mana air laut yang masuk telah mempengaruhi beberapa tambak ikan.
Ia mengatakan hasil tangkapan ikannya telah berkurang dari 20 atau 30 kilogram (44-66 pon) per hari menjadi sekitar 5 kg, dan menambahkan bahwa jika gelombang pasang tidak dicermati, mereka mungkin akan dipaksa untuk pindah.”