Langkah Abdul Kasim ( kelahiran tahun 1972) semakin mantap, tapak kakinya tak beralas menginjak tanah basah dan semak berduri di bawah pohon aren yang menjulang tinggi. Tak lama berselang, sebilah bambu dijadikan pijakan, merayap naik bak cicak hingga pucuk, sebilah golok di pinggang pun berpindah ditebasnya batang-batang pohon aren, air nira pun menetes, ditampungnya dalam jirigen berbagai ukuran yang dibawanya dengan pikulan, air nira siap di panen keesokan harinya.
Di belantara hutan tanah kelahiranya Desa Oncone Raya, Kabupaten Parigi Mountong Provinsi Sulawesi Tengah Abdul Kasim tinggal bersama Yulianti ( 40) sang istri dan ketiga putrinya. Rumah panggung khas masyarakat desa penghuni hutan berdiri tegak di kelilingi rimbun pepohonan dan sawah milik pria yang akrab dipanggil Kaseng ini. Di rumah sederhana itu Kaseng dan istri berjuang mengolah hasil hutan non kayu seperti cengkeh, coklat, aren hingga padi. Namun musim yang berubah semakin menentu membuat penghasilanya sebagai petani terjun bebas. Tanaman cengkeh yang dulu menjadi periuk utamanya kini tak bisa lagi di andalkan begitupun coklat yang semakin merana terserang penyakit. “ Dulu cengkeh bisa panen raya setahun sekali tapi sekarang panen raya sulit ditebak,” ujar pria berkumis tebal ini. Sekitar tempat tinggal Kasem memang dikelilingi dengan tanaman cengkeh dan coklat namun semua seperti tidak terawat karena jarang bisa untuk dipanen. “Biasa saya yang bersihkan tapi terkadang saya minta tolong orang untuk bantu merawat,” sambungnya. Kaseng tidak menyerah, perubahan iklim dihadapi, pohon aren dan Nira menjadi solusi. Setiap hari Kameng memanen pohon aren untuk di jadikan produk gula batok yang diolahnya di dapur sederhana belakang rumah bersama sang istri Yulianti ( 40). Dalam sehari Kaseng bisa “ Batipar”atau memanen nira dalam bahasa lokal lebih dari 5 pohon aren dengan hasil air nira yang bervariasi antara 15 hingga 35 liter. “Tergantung kondisi pohonnya, terkadang ada juga yang tidak keluar air sama sekali,” kata Kaseng. Untuk menjaga produktivitas pohon aren biasanya Kaseng melakukan “ritual” atau perawatan khusus dengan menggunakan Toki atau alat sejenis kayu untuk pemukul kentongan hanya bentuknya lebih pendek dan lonjong. Pohon aren dipukul-pukul dengan Toki lalu buah dan batangnya digoyang secara perlahan. Hal tersebut menurutnya dapat merangsang pohon aren agar nanti saat di panen mengeluarkan banyak air nira.
Pohon aren bisa dibilang kini menjadi “penyelamat” perekonian keluarga, tidak seperti cengkeh atau coklat yang membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dipanen, nira bisa dipanen setiap hari. “Hampir setiap hari saya menjual ( gula batok) dan uang hasil penjualan bisa saya ambil tiap minggu,” ucap Kaseng sumringah.