Bicara tentang komoditas lokal terutama produk yang dihasilkan dari hutan tentu tidak bisa lepas dari peran Kelompok Tani Hutan (KTH). Peran kolompok-kelompok kecil ini menjadi ujung tombak ekonomi masyarakat di pelosok desa. Seperti Kelompok Tani Hutan (KTH) Matuju Tuju Desa Oncone Raya , Kecamatan Tinombo Selatan Kabupaten Parigi Mountong , Sulawesi Tengah. Kelompok ini berhasil menghidupkan roda ekonomi lokal dengan memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yaitu olahan gula aren dari pohon nira yang banyak tumbuh di wilayah hutan sekitar desa.
Kelompok yang terbentuk di tahun 2015 dan beranggotakan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada hasil pertanian terutama kakao dan padi ini melakukan inovasi dengan memproduksi gula semut yang mereka olah menjadi produk saraba (jahe) setelah mereka masuk ke dalam bagian dari Departemen Kehutanan pada 2017 yang terlebih dahulu masuk ke wilayah desa mereka untuk melakukan survey potensi pengolahan hasil hutan pada tahun 2016. Sempat ada keraguan dari masyarakat Desa Oncone yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Matuju Tuju karena dikhawatirkan dengan masuknya survey dari Departemen Kehutanan. “Awalnya kami ragu karena khawatir nanti tidak boleh masuk ke hutan dan memanfaatkan hasil hutan,” ujar Saka (39) Ketua Kelompok Tani Matuju Tuju. Keraguan yang tidak terbukti, dengan menjadi bagian dari Departemen Kehutanan performa kelompok menjadi semakin berdampak kepada anggota kelompok yang berjumlah 32 orang, terutama dampak ekonomi. Awalnya produk yang dihasilkan adalah gula aren dan gula batok tetapi karena secara penjualan dianggap kurang menguntungkan kemudian berinovasi membuat produk gula mini yaitu gula batok yang dibuat kecil-kecil, tetapi produk ini pun lesu penjualanya. Pada tahun 2019 diadakanlah pelatihan membuat gula semut yang diolah menjadi Saraba Instan atau Jahe instan dengan jumlah produksi mencapai 100 kilo per hari dan hingga kini produk itulah yang menjadi andalan dan sukses penjualanya hingga mencapai pangsa pasar luar daerah seperti Palu, Makasar bahkan bisa menembus Malaysia. Cara pemasaran dilakukan dengan cara memanfaatkan media online dan reseler.
Meski Sudah dibilang sukses melebarkan pangsa pasar, kendala masih dirasakan oleh kelompok ini, terutama kendala dalam merubah pola pikir masyarakat yang enggan untuk melakukan inovasi -inovasi lain yang mendukung kemajuan kelompok.