Aksi damai Bela Islam yang digelar oleh berbagai ormas dan elemen agama berakhir ricuh pada Jumat malam, 4 November. Padahal, saat digelar sejak pukul 13.30 WIB, aksi tersebut berlangsung damai dan tertib. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar, mengakui terjadinya kericuhan di depan Istana Negara karena ada sekelompok orang yang melontarkan provokasi secara terus menerus. “Ada sekelompok orang yang niatnya bukan berunjuk rasa, tapi memang ingin menyerang petugas. Mereka menerobos pagar betis pengamanan dan ingin mendekat ke Istana, padahal itu tidak dibenarkan,” ujar Boy saat memberikan keterangan pers di Mabes Polri, Sabtu (5/11).
Dalam kesempatan tersebut, Boy juga menjelaskan kronologi unjuk rasa yang berisi tuntutan proses hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama atas dugaan penistaan agama yang dilakukannya. Berdasarkan data dari kepolisian dalam aksi anarkis tersebut 3 kendaraan terbakar. 20 kendaraan lainnya mengalami kerusakan, dimana 18 diantaranya terkena lemparan batu. Selain itu, terdapat 160 orang dari demonstran yang menjalani rawat jalan di Rumah Sakit Budi Kemuliaan karena tidak kuat melawan gas air mata. Sebanyak 100 orang polisi yang dirawat karena mengalami luka-luka. Dari aksi tersebut, polisi masih memeriksa 10 orang yang diduga sebagai provokator aksi anarkis.